Antara Harapan dan Kenyataan: Potret Kepuasan Mahasiswa Terhadap Kondisi Indonesia Saat Ini

Jakarta-Hasil survei kepuasan masyarakat yang melibatkan 39 responden mahasiswa menunjukkan bahwa mayoritas responden masih menaruh perhatian kritis terhadap kondisi ekonomi, pendidikan, dan kebijakan pemerintah yang berdampak pada kehidupan mahasiswa. Survei ini dilaksanakan pada periode 10-17 Juni 2026 dengan sasaran beberapa mahasiswa yang mewakili beberapa universitas di Jakarya.
Secara umum, tingkat kepuasan berada pada kategori cukup puas hingga kurang puas, menandakan masih terdapat ruang perbaikan yang cukup besar dalam berbagai sektor. Pada aspek kebijakan pemerintah di bidang pendidikan tinggi, responden yang menyatakan cukup puas menjadi kelompok terbesar dengan persentase 28,2%, diikuti responden yang puas sebesar 25,6%. Namun demikian, tingkat ketidakpuasan juga cukup tinggi, dengan 20,5% menyatakan tidak puas dan 15,4% sangat tidak puas.
Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian mahasiswa mengapresiasi kebijakan yang ada, masih banyak yang menilai implementasinya belum sepenuhnya menjawab kebutuhan pendidikan tinggi saat ini. Ketidakpuasan terlihat lebih kuat pada penilaian terhadap kondisi ekonomi yang memengaruhi kehidupan mahasiswa, seperti biaya hidup, biaya pendidikan, dan peluang kerja. Sebanyak 38,5% responden menyatakan tidak puas, sementara 15,4% menyatakan sangat tidak puas. Dengan demikian, lebih dari separuh responden memberikan penilaian negatif terhadap kondisi ekonomi saat ini. Hanya 30,8% yang menyatakan puas atau sangat puas. Hasil ini mengindikasikan bahwa tekanan ekonomi masih menjadi persoalan utama yang dirasakan mahasiswa.
Dalam hal perhatian pemerintah terhadap aspirasi dan kepentingan mahasiswa dalam pengambilan kebijakan publik, mayoritas responden menilai pemerintah belum optimal. Sebanyak 20,5% menyatakan kurang memperhatikan dan 17,9% menilai tidak memperhatikan sama sekali. Sementara itu, responden yang menilai pemerintah memperhatikan atau sangat memperhatikan hanya mencapai 33,4%. Kondisi ini menunjukkan adanya persepsi bahwa suara mahasiswa belum sepenuhnya terakomodasi dalam proses perumusan kebijakan.
Berbeda dengan aspek ekonomi dan kebijakan publik, penilaian terhadap kualitas pendidikan di perguruan tinggi cenderung lebih positif. Sebanyak 41% responden merasa cukup puas, 38,5% puas, dan 12,8% sangat puas. Hanya 7,7% yang menyatakan sangat tidak puas. Data ini menunjukkan bahwa kualitas pendidikan yang diterima mahasiswa relatif baik dan menjadi aspek yang memperoleh penilaian paling positif dibandingkan indikator lainnya.
Sementara itu, ketika diminta memberikan penilaian secara keseluruhan terhadap kondisi ekonomi, politik, dan pendidikan di Indonesia saat ini, mayoritas responden memberikan penilaian negatif. Sebanyak 38,5% menilai kondisi saat ini kurang baik dan 17,9% menilai tidak baik sama sekali. Sebaliknya, responden yang menilai baik atau sangat baik hanya mencapai 35,9%. Hasil ini memperlihatkan bahwa persepsi umum mahasiswa terhadap situasi nasional masih didominasi oleh kekhawatiran terhadap kondisi yang sedang berlangsung.
Kesimpulan:
- Kualitas pendidikan tinggi memperoleh penilaian paling positif, dengan mayoritas mahasiswa merasa cukup puas hingga puas terhadap layanan pendidikan yang mereka terima.
- Kondisi ekonomi menjadi sumber ketidakpuasan terbesar, terutama terkait biaya hidup, biaya pendidikan, dan peluang kerja bagi mahasiswa.
- Persepsi terhadap perhatian pemerintah terhadap aspirasi mahasiswa masih rendah, menunjukkan adanya kebutuhan peningkatan komunikasi dan pelibatan mahasiswa dalam proses kebijakan.
- Secara umum, mahasiswa menilai kondisi nasional di bidang ekonomi, politik, dan pendidikan masih memerlukan banyak perbaikan, tercermin dari dominasi penilaian kurang baik dan tidak baik.
Penulis: Tim Media