Jajak Pendapat Masyarakat

Mayoritas Warga Urban Pilih “Silent Treatment” Ketimbang Teguran Langsung Saat Hadapi Konflik Tetangga

13 June 2026 admin

AKARTA — Lembaga Survei Opini Publik Nasional (LSOPN) merilis hasil jajak pendapat terbaru mengenai dinamika resolusi konflik sosial di kawasan urban Indonesia. Hasilnya mengejutkan: alih-alih menyelesaikan masalah lewat musyawarah atau teguran langsung, mayoritas masyarakat perkotaan kini lebih memilih jalur pasif-agresif atau mengandalkan pihak ketiga.

Jajak pendapat yang melibatkan 2.400 responden di Jabodetabek, Surabaya, Medan, dan Makassar ini memotret bagaimana perubahan ruang hidup (seperti apartemen dan perumahan klaster) mengubah cara manusia urban menghadapi gesekan sosial sehari-hari—mulai dari masalah parkir sembarangan hingga polusi suara.

Menghindari Konfrontasi Fisik

Ketika ditanya mengenai tindakan pertama yang dilakukan saat merasa terganggu oleh perilaku tetangga, sebagian besar responden memilih jalur “aman” demi menghindari ketegangan langsung.

  • 42% Responden memilih melakukan silent treatment atau mendiamkan masalah sambil berharap tetangga tersebut sadar sendiri.
  • 35% Responden memilih melaporkan secara anonim ke pengurus RT/RW atau pihak sekuriti perumahan.
  • 15% Responden meluapkan kekesalan melalui sindiran di grup WhatsApp warga atau media sosial pribadi.
  • Hanya 8% Responden yang mengaku berani mendatangi tetangga secara langsung untuk menegur dengan cara baik-baik.

Ketakutan akan Eskalasi dan Label “Sumbu Pendek”

Direktur Riset LSOPN, Hendra Wijaya, menjelaskan bahwa keengganan warga urban untuk menegur secara langsung dipicu oleh tingginya kecemasan sosial akan eskalasi konflik yang berujung pada kekerasan fisik atau viral di media sosial.

“Masyarakat urban saat ini sangat menjaga privasi dan ruang personal mereka. Ada persepsi bahwa menegur langsung berisiko memancing respons defensif atau dicap sebagai orang yang ‘sumbu pendek’ oleh lingkungan sekitar. Akibatnya, mereka memilih jalur birokrasi (RT/Sekuriti) atau jalur digital,” ujar Hendra.

Menariknya, jajak pendapat ini juga menemukan bahwa 68% responden merasa hubungan bertetangga di era sekarang terasa “lebih dingin dan transaksional” dibandingkan lima tahun lalu. Jajak pendapat ini merekomendasikan pentingnya menghidupkan kembali ruang-ruang pertemuan kasual antarwarga guna mencairkan kecemasan sosial yang kian menebal di kawasan perkotaan.

← Kembali ke Beranda